Sunday, November 4, 2018

Cerpen Santri Keren "Hayya 'alassholah"

Tak heran lagi jika saja adzan mulai berkumandang, santri putri akan berlomba – lomba untuk menjawabnya. Menjawab adzan lalu menyebut nama seseorang yang menjadi hajatan mereka (sebut saja nama seseorang yang mereka sukai), bertepatan ketika lafadz adzan hayya ‘alassholah berkumandang. Memang semenjak saat itu, hal ini menjadi kebiasaan tersendiri yang menjadi trend santri putri di pesantren ini, kebiasaan ini sering disebut dengan istilah Amalan Hayya ‘alassholah. Ya, Semenjak Ustadzah Aini mengkisahkan bahwa konon katanya, jika kita menjawab adzan lalu menyebut nama seseorang yang dihajatkan kala lafadz adzan hayya ‘alassholah berkumandang , Maka dia yang disebutkan namanya itu akan mampu mendengar panggilan kita atau bahkan barangkali jodoh. Dengan perincian, menyebut namanya dalam hati sembari menahan nafas sepanjang masing – masing lafadz hayya ‘alassholah berkumandang.
                Percaya atau tak percaya yang namanya jodoh itu Allah yang menentukan, kita sebagai manusia tentunya berkewajiban untuk berusaha menjadi yang terbaik untuk jodohnya nanti. Yah, begitulah. Entah mengapa yang namanya santri itu terkadang identik dengan kebiasaan pemikirannya yang tentang jodoh-lah ataupun menikah-lah, yang ini-itu dilamar-lah. Apalagi santri putri yang sukanya baper. Lihat santri putra lewat aja, udah dag dig dug. Aduh – aduh...! Mungkin apa ini termasuk cobaan dari Allah? Termasuk untuk menguji lurus atau tidaknya niatan kita sebagai santri yang sejatinya berniat untuk Tholabul ‘Ilmi. Waollohu a’lam...
                Tapi, hal itu juga tak bisa disalahkan. Karena yang namanya cinta itu anugerah dari Allah. Wajar saja santri juga punya cinta. Bedanya dalam pesantren diajarkan tentang cinta yang fitrah yakni, cinta yang suci, cinta yang terhindar dari kemaksiatan, cinta yang karena Allah yang diluapkan melalui setiap hembusan – hembusan do’a. Sehingga lahirlah amalan – amalan yang berkaitan dengan yang namanya cinta. Seperti halnya, kebiasaan santri putri di Pondok Pesantren Toha yang kuabdi saat ini. Yakni....Amalan Hayya ‘alassholah.
***
                Kala murottal Q.S. Al – Mulk berbunyi, menandakan masuk waktu sholat fardhu maghrib. Dan pastinya adzan akan segera berkumandang. Seperti biasa, santri putri saat ini sibuk dengan sendirinya. Berlari kesana – kemari untuk mengantri bersuci.
“ Tasya! Masih lama? ” Terdengar suara Mbak* Ani dari luar kamar mandi. (*kata “mbak” yakni panggilan kepada orang perempuan yang lebih tua)
“ Iya mbak. Syuwayya !(bentar!)” Jawabku.
                Tak lama aku keluar dari kamar mandi. Kupakai mukenaku lalu berangkat ke masjid. Semua santri mulai beramai – ramai pergi ke masjid. Dan tergelarlah sajadah mereka membentuk shaf sholat. Lihatlah wajah antusias mereka untuk berlomba lomba menjawab adzan. Ketika murottal telah berhenti, sekejap setiap lirih suara langsung teredam. Hening. Ya, mereka akan menjawab adzan, dan yang ditunggu apalagi kalau bukan Amalan Hayya ‘alassholah mereka. Begitu pun aku, juga bersiap menjawab adzan lalu menyebut namanya kala nanti lafadz adzan hayya ‘alassholah berkumandang. Adzan mulai terdengar,  dan di kala berkumandangnya lafadz adzan hayya ‘alassholah , aku mulai menahan nafas, memejamkan mata lalu dalam hati kusebut...    “Abdullah Zein... Abdullah Zein...”     Tak lama adzan telah berlalu, kubaca do’a setelah adzan lalu tak lupa 3x Al – fatihah yang teruntuk pada seseorang yang memang kuhajatkan. Kyai Dani pun telah bersiap untuk memimpin sholat maghrib sehingga Iqomah pun dilantunkan. Sholat telah dimulai dan diakhiri dengan salam. Dilanjutkan dengan berdzikir kepada Allah yang dipimpin pula oleh Kyai Dani.
 Alhamdulillah, Allah menganugerahkan cinta – Nya padaku sehingga hatiku bertaruh pada makhluk Nya yang memiliki sebutan, Abdullah Zein. Katanya, lebih akrab dipanggil Mas* Azein (*kata “mas” adalah sebutan kepada orang laki – laki yang lebih tua). Ia adalah muadzin dari santri putra, terkenal dengan suara emasnya, dan Alfiyah yang diembannya. Aku tak pernah tampak bagaimana rupanya, hanya mendengar setiap panggilan Allah yang dikumandangkannya. Disetiap harinya kutangkap melalui gendang telinga, alunan panggilan Allah untuk beribadah yang dikumandangkannya dengan lantang lewat pengeras suara masjid. Memanglah kuakui awalnya aku jatuh cinta pada suara emasnya. Sehingga terciptalah namanya dalam setiap hembusan do’aku pada Allah Subhanahu Wata’ala. Selama kurang lebih 1 setengah tahun lamanya semenjak maraknya Amalan Hayya ‘alassholah, nama Abdullah Zein – lah yang selama ini kusebut dikala lafadz adzan hayya ‘alassholah berkumandang.
Aku, Tasyaa Aluna. Santri putri Kyai Dani Ma’ruf dan Ibuk Nyai Nurjannah. Menapakkan kaki tuk berhijrah di pesantren ini. Yang Alhamdulillah melewati tiga tahun mengabdi dan mengaji Kitab As salafiyah, sejak kelas 1 Madrasah Aliyah hingga meluluskannya. Dan kuputuskan di tahun keempat ini usai lulus Aliyah, aku mulai mengemban kitab suci Allah, Al-Qur’an. Ya, Insyaa Allah biasa disebut menghafal.
Menghafal Al – Qur’an itu tak semudah membalikkan sebuah telapak tangan. Pasti diuji keimanannya oleh Yang Maha Kuasa. Kata Ibuk Nyai menghafal Al – Qur’an itu cobannya datang dari mana saja. Mulai cobaan dari diri sendiri, guru, keluarga, teman dan sebagainya. Itu memang benar. Sebab aku telah mengamati dari banyaknya teman seperjuanganku di pesantren ini yang memang 80%  santrinya adalah penghafal. Ada kalanya, dicoba dari diri sendiri. Alkisah, seniorku sebut saja Mbak Naila. Orangnya penyabar, yang sabarnya tak mengenal asa. Setengah dari perjalanannya dalam menghafal, Sebuah kenyataan mengejutkan hatinya. Alat indranya yang disebut mata, yang memang sedikit adanya keluhan. Ternyata memang terjadi suatu kefatalan. Dulu, sewaktu umurnya masih 10 tahun sempat suatu waktu ia bermain bersama saudara kandung laki – lakinya. Dan tibalah suatu ketidaksengajaan terjadi. Sebuah peluru ketapel mengenai matanya. Beruntung dalam keadaan mata tertutup, hingga awalnya memang tak apa. Namun efeknya terjadi ketika 7 tahun usai dilewatinya, yang tanpa ia sadari tepat kala pertengahan proses menghafal. Ia divonis katarak. Sehinnga pada akhirnya, dengan keterpaksaan ia harus menunda hafalannya selama kurang lebih 3 bulan untuk menjalani operasi mata sekaligus pemulihannya. Dengan sisa iman yang masih kokoh dan istiqomah, setelah 3 bulan lamanya menunda hafalan, Mbak Naila kembali berjihad di jalan – Nya untuk mengemban Al – Qur’an.
Ada kalanya juga, Allah menguji keimanan lewat cobaan dari keluarga. Alkisah masih orang yang sama, Mbak Naila. Tak ada angin tak ada hujan, suasana yang awalnya menyejukkan berubah menjadi menghitam. Ia mendapat kabar bahwa saudara kandung laki – lakinya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga patah tulang kakinya. Hal itu termsuk penghambat bagi Mbak Naila. Pikirannya kalut dalam gelapnya kabut. Akibatnya konsentrasi dalam menghafal berkurang. Tak lepas dari fikiran tentang keluarga.
Pada intinya Allah menguji seberapa kokohnya keimanan kita, sejauh mana keistiqomahan kita dalam menghafal, luruskah niat kita dalam menghafal Al – Qur’an yang sejatinya hanya mengharap Ridho Allah Subhanahu Wata’ala.
Selebihnya, Ustadzah Aini yang memang seorang hafidzhoh pun berkata, “Orang Hamilil Qur’an itu punya janji kepada Allah dicoba terus keimanannya, yang cobaannya itu sampai mati.” Cobaannya bisa di tahap awal dalam menghawal, pertengahan dalam menghafal, atau ketika setelah khotam. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Waullohu A’lam.... Allah-lah yang berkehendak atas segala sesuatu.
Di ba’da maghrib (setelah maghrib) ini, adalah jadwal setoran hafalan yang akan disimak oleh Ibuk Nyai. Alhamdulillah, saat ini adalah perjalananku dalam pertengahan hafalan. Disinilah konon katanya para penghafal Al – Qur’an dicoba keimanannya lewat perasaan hatinya. Ya, bisa dibilang perasaan suka terhadap lawan jenis. Lihat saja, sebagian besar teman seperjuanganku. Mereka sedang melewati masa – masa kebaperan. Entah yang ini usai dilamarlah, diberi kode tanpa kepastian oleh orang tuanya tentang laki – laki lah, dan atau apalah itu.
Tepat kumenghafal di juz 16 Q.S. Toha. Kala hendak setoran pada Ibuk Nyai, dengan baik hati, Ustadzah Aini menyimakku.
“Sini, Aku simak, Sya.” Ujarnya.
Injih.....(Ya....)”
Kubaca ayat per ayat dengan bil – ghoib (menghafal) dan tibalah pada ayat terakhir. Usailah 2 halaman disimak oleh beliau.
Alhamdulillah, dapat setengah. Yang bener jaganya!”  Tuturnya.
Aku hanya mengulas senyum.
Baper ndak (tidak) sama ayatnya?”
“Emm.... begitulah..”
Mungkin heran ustadzah tanya seperti itu? Ya, memang ayat surah Toha ini memang membuat para santri merasakan hebatnya baper. Karena memang mereka tau arti dari ayat tersebut. Mari simak artinya..mulai dari Q.S. Toha ayat 31.. ”Teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia.” lalu ayat 32.....”Dan jadikanlah dia teman dalam urusanku.” Dan penggalan ayat 39...”....Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari – Ku...” lalu ayat 41....”Dan Aku telah memilihmu(menjadi rosul) untuk diri – Ku.”
Masyaa Allah! Pada ayat itulah ditunjukkan bahwa betapa besarnya Cinta Allah, betapa manis Cinta – Nya yang perlu kita balas dengan berupa rasa syukur atas segala nikmat yang dikaruniakan- Nya dan selalu mengingat – Nya. Namun, seperti itulah manusia kerap lupa terhadap Sang Penciptanya.
Ayat tersebut memang terkadang menjadi caption – caption para santri yang memang lagi melewati tantangan perasaan. Ya, sebut saja cinta. Memang seperti itulah para santri, gemar mengambil caption dari ayat Al – Qur’an yang artinya mengandung unsur cinta.
“Memang disinilah Allah meningkatkan cobaan-Nya kepada para penjaga Al-Qur’an. Apalagi masalah suka pada lawan jenis.Sebagai contoh dapat dilihat yang terlebih pada ayat surat Toha antara ayat 25 – 41 ,yang pada ayat itu banyak yang menjadi baper karena telah mengetahui artinya. Dan kebetulan saat itulah aku di bingungkan.....”
Aku mengerutkan kening, karena terputusnya ucapan ustadzah Aini. Kala ku pandang,beliau tersenyum. Aku menggeleng tak mengerti.
“Ya,tiba aku menghafal ayat-ayat itu,kurang lebih lima santri putra pesantren Jombang datang pada ibuku menanyakan tentangku. Belakangan itu,aku digembleng untuk sholat istikhoroh pada malam hari. Agar tau petunjuk dari Allah sipakah yang terbaik untukku. Mereka semua sama. Udah bagus,hafal Alfiyah pula.” Sambung beliau.
Ya Allah sampai seperti itu cobaannya? Masyaa Allah aku tak bisa bayangkan bagaimana bimbangnya hati ustadzah Aini saat itu yang ditanyakan kabarnya oleh lima santri pesantren Jombang yang terkenal dengan santrinya yang mengesankan. Belum lagi tanggungan hafalannya yang memang belum tuntas.
“Ya sudah setoran dulu sana!” Utusnya.
Memang kurang lebih lima menit yang lalu pintu ndalem (Rumah Ibuk Nyai) sudah terbuka, pertanda Ibuk Nyai telah bersiap untuk menyimak setoran para santri. Aku pun berjalan bersama santri lainnya menuju ndalem.
Tampak dari luar, mimbar kayu itu terlihat sedikit berdebu. Aku dan teman – temanku saling berpandangan dan mematung sekejap. Dengan sigap ku berlari menuju ruang depan ndalem tepat terletaknya mimbar kayu itu. Mereka pun juga berlari mengekoriku. Ya, kami saling berebut untuk membersihkan mimbar kayu Ibuk Nyai dengan berharap mendapat barokah dan ridho beliau. Hal tersebut memang telah menjadi kebiasaan para santri di pesantren ini. Saling berebut berkah dan ridho Bu Nyai lewat hal sekecil apapun. Dengan sajadah alas ngaji seadanya, kami berebut untuk membersihkan mimbar.
“ Hey! Aku duluan!” Katanya yang menepuk pundakku yang masih asyik membersihkan mimbar. Aku hanya membalasnya dengan senyuman ringan.
“Dasar Tasya....” Sambungnya kesal  dengan mengandung candaan.
Usai bersih, Kami duduk berderet rapi lalu menunggu Ibuk Nyai rawuh (datang).
Gorden ungu itu tersibak dari belakang mimbar. Tibalah Ibuk Nyai keluar dari baliknya sembari membawa secangkir wedang jahe di tangan kanan beliau. Ya, itulah rahasia dibalik emasnya suara beliau, wedang jahe hangat yang diberi sedikit taburan gula. Tanpa basa – basi, dengan bahasa isyarat ketukan rotan pada mimbar. Dari barisan Lia, para santri mulai maju satu per satu menyetorkan hafalan mereka kepada Ibuk Nyai. Mereka akan membaca secara bil – ghoib didepan Ibuk Nyai dan disimak oleh beliau.
Setiap santri wajib menyetorkan 2 halaman Al – Qur’an per harinya. Sehingga diperoleh target 10 hari 1 juz dilanjutkan dihari kesepuluhnya muroja’ah juz yang baru dihafalkan tersebut. Muroja’ah dengan dibentuk majelis sema’an biasa disebutnya. Yakni membaca bil - ghoib yang akan disimak oleh santri lain secara bergantian.
Untuk menguatkan kualitas hafalan. Dilaksanakan kegiatan rutinan di akhir bulan. Yakni sema’an seluruh juz yang memang telah lampau dihafalkan. Andaikata seperti kami yang Insyaa Allah telah menghafal 15 juz, artinya diakhir bulan nanti kami akan membaca 15 juz tersebut secara bil – ghoib selama 2 hari penuh yang dilakukan secara berkala. Seperti itu.
Haruskah kita menguatkan hafalan? Ya, karena menghafal Al – Qur’an itu akan dipertanggung jawabkan oleh Allah di akhirat nanti. Karena memang menghafal itu dari kata bahasa Arab yakni Khafadzo yang artinya menjaga. Jadi dapat disimpulkan bahwa menghafal Al – Qur’an itu tak semata setoran saja. Tapi juga berkewajiban menjaga setiap ayatnya dalam diri. Maka dari itu terciptalah usaha untuk menjaga Al – Qur’an seperti sema’an yang dilakukan seperti di pesantren ini. Adapun pepatah mengatakan bahwa, “Menghafal Al – Qur’an itu bukan untuk Khotam, Tetapi untuk setia.” Maksudnya adalah setia untuk menjaganya.
Tepat murottal Q.S. Al - Insan berbunyi. Menandakan masuk waktu sholat Isya’. Sesi setoran pun telah usai. Nyai pun berdiri dan kembali menyibak gorden dan hilang dibaliknya.
Kebetulan, wedang jahe Nyai masih tersisa seperempat gelas. Tanpa basa – basi kami pun segera berebut.
Thobur!!...(Antri)” Kataku sembari menepuk punggung Nisa yang memang mendapat tegukan pertama. Ia mengacungkan jempol tangan kirinya pertanda,”Ya”
Hal tersebut juga salah satu mengharap barokah Ibuk Nyai,yang memang menjadi hal yang direbutkan oleh para santri. Adat tersebut menjadi kebiasaan yang memang identik daripada para santri.
“Jangan lupa gelasnya dicuci lalu ditaruh ke dapur ndalem!”Kataku padanya yang mendapat tegukan terakhir.
“ ‘Alamtu (saya tahu)” Jawabnya yang mendapat tegukan terakhir.
Ku berjalan menuju asrama dan langsung antri ke kamar mandi untuk segera bersuci. Usainya,aku menyambar mukena yang kuletakkan di dalam almari. Murottal telah berhenti. Ya Allah..keburu adzan!!..ku berlari menuju masjid. Ya..biasalah biar tak ketinggalan menjawab adzan. Selain itu,pasti taulah..lakoni Amalan Hayya ‘alassholah.
Sampai di masjid,ku gelar sajadah biruku. Di masjid, santri lain telah duduk rapi di masing-masing shaf sholat mereka.Tampak di barisan kedua terdapat shaf sholat yang masih kosong.Segera aku duduk disana. Adzan pun mulai berkumandang, akupun menjawabnya dengan khusyuk,dan tibalah lafadz Hayya ‘alassholah berkumandang. Kupejamkan mata, menahan nafas dalam hati kusebut...”Abdullah Zein... Abdullah Zein..”
***
Mentari mulai ter gelincir diantara luasnya hamparan langit biru. Terdengar kicauan merpati keluar dari sangkarnya. Angin berhembus pelan sehingga menciptakan nuansa kesejukan.
Pagi ini Ning Afika akan datang dengan membawa sebuah kebanggaan. Afika Nida’unnisa, Putri bungsu Kyai Dani setelah kedua kakaknya yakni Ning Asma dan Ning Assyifa, yang saat ini beliau – beliau bersama suami berturut – turut membina Pondok Pesantren di Malang dan Kediri. Ya, Ning Afika, seperti itulah para santri menyebutnya. Kata “Ning” adalah sebutan bagi anak perempuan seorang Kyai. Sedangkan biasanya anak laki – laki seorang Kyai disebut dengan kata “gus” . Kebanyakan pesantren memang seperti itu. Menyebut putra atau putri Kyai nya dengan sebutan gus atau ning.
Ning Afika datang dari Jihad Fiisabilillah nya di Turki. Setelah meluluskan akselerasi 2 tahun Aliyahnya, beliau melanjutkan jenjang perguruan tinggi jalur beasiswa di Turki. Masyaa Allah sungguh mengesankan.
Ba’da subuh tadi keluarga Kyai Dani berangkat dengan mobil putih menuju bandara Juanda untuk menjemput Ning Afika. Sebelum akhirnya, tepat pukul 10.00 WIB ini tampak mobil putih Kyai Dani memasuki gerbang hitam pesantren dan tepat parkir di garasi ndalem.
Ning Afika, beliau memiliki paras yang cantik dan manis, pun beliau masih seumuranku. Beliau tak gila akan kehormatan sehingga biasa membaur dengan para santri.
***
Suatu waktu kala murottal Q.S. Al – Mulk telah terdengar melalui pengeras suara masjid. Menandakan masuk waktu sholat maghrib. Seperti biasa para santri bergegas bersuci lalu berangkat menuju masjid. Tampaklah masjid telah dipenuhi para santri yang duduk rapi diatas sajadah mereka yang tergelar dan membentuk shaf sholat. Mereka bersiap menyambut adzan dan menjawabnya. Yah, tak lupalah dengan Amalan Hayya ‘alassholah mereka.
Tibalah sebuah sajadah tergelar tepat disamping shaf sholatku. Memang sedari tadi aku telah sampai di masjid dan mengambil shaf sholat di barisan kedua. Kutunggu adzan berkumandang dengan muroja’ah hafalan yang ba’da maghrib nanti kusetorkan.
Pemilik sajadah yang tergelar disampingku pun duduk. Sebelum akhirnya beliau mulai membuka pembicaraan. Ya, beliau...Ning Afika.
“Sejak kapan temen – temen jadi rajin berangkat jama’ah seperti ini? Padahal masih murottal lho, shaf sholatnya sudah hampir penuh. Bukankah dulu biasanya adzan sudah berhenti masih 2 baris yang datang?” Tanya beliau dengan sedikit adanya unsur candaan.
Aku yang tadinya menghadap pada lembaran Al – Qur’an kini menoleh pada beliau. Sedikit aku terlonjak, karena memang sudah lama aku tak mndengar suara lantang beliau. Mungkin asing di telinga. Aku menjabat tangan beliau dengan ta’dzim dan tak lupa mengulas sebuah senyuman. Meski sudah biasa membaur dengan para santri tapi seyogyanya kita, sebagai santri harus memiliki rasa ta’dzim kepada yang termasuk Dzurriyah nya Kyai (keturunannya Kyai), apalagi pada putra atau putri Kyai, seperti Ning Afika ini. Dan sebelum akhirnya, aku menjawab pertanyaan beliau.
“Emm... Semenjak maraknya Amalan Hayya ‘alassholah  di pondok.”
Aku tersenyum melihat lucunya gurat wajah heran Ning Afika. Pasti beliau bertanya – tanya apa itu Amalan Hayya ‘alassholah. Tanpa ocehan panjang kujelaskan pada beliau tentang trend kebiasaan santri putri di pondok yang tak diketahui oleh beliau. Karena memang maraknya kebiasaan tersebut ketika Ning Afika masih di Turki.
“Awalnya , waktu itu Ustadzah Aini cerita tentang adzan hayya ‘alassholah itu ke aku dan santri lainnya. Sejatinya, itu masih konon katanya, tapi temen – temen aja ambil percaya gitu aja!” Tambahku.
“Ya Allah... Unik – Unik! Wajarlah santri remaja kalau punya rasa suka hingga dibawa lewat do’a” Puji beliau dengan senyum lepas.
“Hingga hal itu merembet menjadi sebuah trend kebiasaan di asrama santri putri sejak 2 tahun yang lalu dan disebut dengan istilah Amalan Hayya ‘alassholah. Setelah Ning Afika berangkat ke Turki.” Jelasku lebih detail.
“Kamu juga lakoni Amalan itu?”
Aku hanya tersenyum simpul.
“Terus yang kamu sebutin namanya siapa?”
“Silakan tanya ke Allah Ning...” Candaku karena sedikit malu.
Hening sebentar dan tak lama Adzan dikumandangkan oleh suara emas Mas Azein. Ning Afika pun menoleh kearahku. Aku pun mengangguk dan tersenyum. Kami bersama – sama menjawab Adzan dan menyebut nama seseorang yang kami hajatkan dikala sepanjang lafadz hayya ‘alassholah berkumandang.
Alhamdulillah, semenjak saling berbincang saat itu, kami menjadi kenal akrab. Hingga akhirnya entah yang Ning Afika setiap hari menyimak hafalanku yang akan disetorkan, setiap kali ba’da maghrib kami akan duduk di kursi bawah pohon di halaman untuk menyimakku dan sesekali sedikit berbincang. Ataupun terkadang, kala aku melaksanakan sema’an satu juz ataupun lima juz juga Ning Afika yang menyimak , aku juga sering kali diajak keluar masuk ndalem seperti rumah sendiri untuk membantu beliau bersih – bersih atau membuat sebuah hiasan rumah. Berkaitan dengan hal itu entah mengapa muncul sebersit rasa tak enak kepada beliau. Dan sebelum akhirnya, aku berniat membalas kebaikan beliau, setidaknya seringkali membantu beliau ketika kesulitan, pun kita sering bersama saling bertukar cerita. Mungkin menjadi sebuah kehormatan tersendiri bagiku kala dapat kenal akrab bersama beliau.
Pernah sesekali kujelaskan pada beliau bahwa aku sering merasa tak enak kepada beliau karena seringkali beliau menyimakku. Tapi beliau mungkin akan hanya tersenyum ringan dan berkata bahwa semuanya tak apa karena beliau sudah senang memiliki teman sepertiku, maklum saja karena memang di ndalem pasti sepi tak ada teman.
Dan semenjak kenal akrab dengan Ning Afika lah yang awalnya aku tak tau apa yang akan terjadi di kedepannya. Maka, kunyatakan disinalah mulainya sebuah tantangan yang akan bermain dengan kesabaran dan keikhlasan hati.
***
Suatu waktu, ketika beliau menyimak hafalanku yang akan disetorkan. Kejadian kecil terjadi hingga aku tertangkap basah oleh Ning Afika bahwa aku menyukai santri putra Kyai Dani. Kala Al – Qur’an ku telah dalam genggaman beliau, tibalah secarik kertas jatuh dari antara lembaran Al – Qur’an.
“Apa ini?” Tanya beliau sembari mengambil kertas itu yang jatuh tepat ditangan kirinya. Aku pun sedikit tak acuh awalnya, karena kupikir hanya kertas kecil yang kosong tak berarti. Namun ternyata?
“Abdullah Zein?” Langsung aku membulatkan mata berharap salah mendengar.
Baru kuingat bahwa aku pernah menuliskan nama Mas Azein di secarik keratas dan kusematkan diantara lembaran Al – Qur’an tepat di Q.S. Ar – Rahman. Hemm... biasalah! Aku hanya  bermimpi untuk dipinang Mas Azein dengan mahar halalnya Q.S. Ar – Rahman. Seperti Ustadzah Aini yang memang dulu dipinang oleh suaminya dengan lantunan Q.S. Ar – Rahman dengan bil – ghoib.
“Apa Ning?”  Tanyaku sekali lagi.
“Abdullah Zein. Wah.... ini rupanya yang kau hajatkan? Dan jangan bilang nama ini yang kau sebut dalam kebiasaan Amalan Hayya ‘alassholah mu!” Bidiknya.
Ya Allah aku malu... Bagaimana ini? Jantungku berdegup.
“Bukankah ini santri putra abah (panggilan ayah)? Yang biasanya adzan di masjid kan? Suaranya bagus kan? Kalau ndak salah biasa dipanggil Mas Azein! Wah... ketahuan kamu! Dia lho biasa diutus abah bantu ini itu di rumah.”
Ya Allah Ning Afika tau lagi orang nya yang mana. Mau gimana lagi, bisanya hanya pasrah.
“Udah lah, Tasya! Tak apa... Cinta itu fitrah, sehingga setiap manusia berhak memilikinya.
Sehingga akhirnya semenjak saat itu Ning Afika seringkali menjailiku dengan berkata yang entah itu aku dicari Mas Azein lah atau dapat salam dari Mas Azein lah dan segala kejailan beliau. Memang beliau itu terkadang suka bercanda.
***
Dan di sore itu Ning Afika mengajakku untuk membantunya memasak untuk berbuka puasa sunnah. Kebetulan keluarga ndalem hari ini berpuasa Senin Kamis.
Memotong dadu kecil semua wortel segar itu lalu kurebus bersama sawi putih dalam panci berisi air yang telah mendidih. Setelahnya kumasukkan bumbu sop kaldu ayam instan kedalam rebusan wortel dan sawi putih. Sembari menunggu matang sop yang kurebus, aku membuat seduhan teh hangat untuk Kyai dan Ibuk Nyai. Untuk Ning Afika beliau beliau ingin membuat seduhan buka puasa sendiri. Dua gelas teh ku siapkan diatas meja makan. Sedangkan sop kaldu ayam yang memang sudah matang kutuangkan dalam baskom kaca lalu menyusul kuletakkan diatas meja disamping lauk tempe goreng yang sedari tadi telah disiapkan Ning Afika.
Kebetulan hari ini aku udzur (haidl) sehingga tak bisa menemani Ning Afika sholat berjama’ah di masjid. Namun, mustahil bila hal itu menjadi perusak keistiqomahanku dalam menjawab adzan yang dikumandangkan oleh Mas Azein dan sangat mustahil lagi apabila hal itu  menjadi penghalang hatiku untuk menyebut nama Mas Azein ketika lafad adzan hayya ‘alassholah berkumandang nanti.
Ketika aku akan kembali ke asrama, langkahku terhenti karena panggilan Ning Afika yang telah siap dengan mukena putihnya.
“Tasya! Jangan kembali ke asrama dulu nanti ba’da maghrib kita makan bersama, kan kamu sudah membantuku. Toh kamu haidl kan, pergi masuk ke kamarku dulu sana!” Utusnya.
“Emm..” Aku menggaruk tengkukku bingung harus apa. Mana mungkin aku langsung masuk ke kamar beliau begitu saja?
“Sini – sini aku antar!” Ning Afika pun menggiringku ke kamar beliau.
Tampak sebuah karpet merah sedang telah tergelar disana, dengan meja lipat yang diatasnya telah tertera rapi masakan yang kami masak tadi, masing – masing dalam wadah kecil yang memang sisa dari masakan utama di meja makan. Ya Allah, Ning Afika tadi rupanya menyiapkan ini semua.
“Udah duduk sini dulu! Ini ada  Al – Qur’an, siapkan tambahan hafalan barumu yang akan disetorkan. Seperti biasa nanti setelah sholat aku simak baru usainya kita makan bersama sejenak.” Utusnya dengan singkat sembari mengambilkan Al – Qur’an Tafsir diatas almari dan diberikan padaku.
Aku pun duduk diatas karpet. Ning Afika pun berlalu menuju masjid.
***
Benar kata Ning Afika, sehabis sholat beliau menyimakku lalu mengajakku makan bersama beliau. Ditengah makan sesekali beliau mengatakan sesuatu.
“Ini nanti Ibuk ndak bisa menyimak setoran kamu dan teman lainnya.” Ucapnya membuka percakapan.
“Kenapa?”  Tanyaku penasaran.
“Setelah ini abah akan membicarakan sesuatu bersamaku dan juga ibuk. Jadi, setoranmu akan dijamak dengan tambahan hafalan besok sehingga besok disimak ibuk empat halaman sekaligus. Disiapkan ya!” Sambung beliau.
Aku pun mengangguk. Tibalah suara Kyai Dani terdengar memanggil Ning Afika dari ruang tamu.
“Afika!” Suara berat beliau terdengar jelas.
Dengan sigap Ning Afika beranjak dari makannya dan mengenakan jilbab seadanya menuju ruang tamu dan meninggalkan sedikit pesan kepadaku.
“Habisin ya makannya sepertinya abah membicarakan ‘sesuatu’  itu sekarang! Tapi aku tak tau apa yang akan disampaikan beliau nanti. Ah entahlah! Bismillah!” Tinggalnya beliau dengan memberiku pesan. Beliau pun berlalu.
                ‘Ya Allah Ning...Ning!’ batinku sembari menggeleng.
                Aku pun menghabiskan sisa makanan yang masih ada. Alhamdulillah,sisanya ndak banyak, jadi ndak kekenyangan. Semoga dapat barokahnya, bayangkan ini sisa makanan Dzurriyyah nya Kyai (keturunannya Kyai), seperti apa barokahnya?
Usai habis makanannya, aku beranjak menuju washtafel untuk mencuci alat makan yang kugunakan. Aku mulai berjalan melewati ruang keluarga namun langkahku terhenti ketika tampak dimataku, terdapat sekelebat wajah seorang santri putra. Memang dari ruang keluarga sedikit tampak suasana di ruang tamu. Benar, aku tak salah melihat! Itu santri putra dan ia duduk terlibat dalam pembicaraan keluarga ndalem tentang ‘sesuatu’ yang dikatakan Ning Afika tadi.
Langkahku terbawa mendekati tembok pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Entah apa yang telah menghipnotisku hingga tanpa rasa dosa aku penasaran apa yang dimaksud ‘sesuatu’ oleh Ning Afika. Aku mulai mendengar dengan baik.
“Disini abah akan menyampaikan bahwa kamu Afika, dan kamu Azein sepakat akan abah dan ibuk jodohkan.” Kata beliau yang sedikit aku tak percaya. Jantungku berdegup. Benarkah ini yang aku dengar?
“Afika, maaf sebelumnya abah dan ibuk tak memberitahumu dahulu, karena abah dan ibuk ingin kamu menyetujuinya bukan untuk menolaknya.” Kata abah berharap peretujuan Ning Afika.
“Afika, Perkenalkan ini Abdullah Zein yang biasanya mengumandangkan adzan di masjid. Abah dan ibuk telah menaruh kepercayaan padanya sehingga, percayalah dia adalah yang terbaik.” Tambah Ibuk Nyai.
Tibalah titik demi titik air mata yang tak terasa jatuh dari kelopak mataku. Tenggorokanku tercekat. Jantungku berdegup kencang. Inilah yang kusebut tantangan dari awal, bahwa semenjak aku kenal akrab dengan Ning Afika lahirlah tantangan yang bermain bersama keikhlasan dan kesabaran hati. Selamat datang tantangan kenyataan tentang Kyai Dani dan Ibuk Nyai yang memang telah menjodohkan Ning Afika dengan Mas Azein.
Segera kulanjutkan langkahku menuju wastafel dan mulai mencuci alat makan yang digunakan keluarga ndalem dan yang baru kugunakan bersama Ning Afika. Tepat di terakhir ku mencuci alat makan, tibalah Ning Afika disampingku. Tampak gurat takut di wajahnya dan beliau mematung tepat didepanku.
Ning? Maafkan aku, aku tadi tanpa sengaja mendengar perbincangan di ruang tamu. Maafkan aku Ning... Jika memang kau berkehendak untuk memarahiku, aku siap menerimanya.” Dengan pelan dan gugup luar biasa aku mengatakan itu pada beliau. Aku menunduk, air mataku telah membendung dalam kelopak mata bersiap untuk menetes kesekian kalinya.
Hening lama. Hingga akhirnya aku mendongak menatap wajah beliau yang saat ini memasang gurat tak biasanya dan membulatkan mata.
Tanpa sepatah kata tak bermakna, Ning  Afika tiba – tiba menarik lenganku untuk keluar dari ndalem dan duduk di kursi bawah pohon yang biasanya kami berbincang singkat disana. Ya Allah, aku siap dibenci dan dimarahi oleh Ning Afika.
“Ha-harusnya aku yang meminta maaf padamu. Karena memang kau telah mengetahui perbincangan kami....” Sesalnya yang terdengar gugup. Kupandang wajah beliau. Beliau meneteskan air mata.
Ning tidak salah atas apapun. Mengapa harus meminta maaf?”
“Maafkan aku karena tak bisa menolak keputusan abah untuk menjodohkan aku dengan Mas Azein yang sejatinya ia disukai olehmu, temanku yang selama ini padaku tak pernah berburuk hati. Seberapa besar dosa yang kuperbuat padamu yang tak seharusnya menerima rapuhnya hati...”
“Ning, ketahuilah! Justru jika kau menolak keputusan Kyai Dani maka akan menimbulkan dosa yang lebih! Ning... jangan menghukum diri seperti itu!”
“Tasya?....” Akhirnya beliau mendongak. Tampak air mata tak henti – hentinya berhenti dari mata beliau. Dengan sisa tenaga yang masih ada walau banyak yang terkuras karena tangisan, beliau memelukku dengan erat.
Kubalas pelukannya dengan lemah. Kami tenggelam dalam tangisan haru.
Bismillahiqolby....
Izinkan aku mengatakan
Kebiasaanku yakni Amalan Hayya ‘alassholah, yang memang adalah menyebut nama seseorang yang kuhajatkan kala lafadz hayya ‘alassholah berkumandang dan tak lupa mengkhususkan 3 x Al – Fatihah untuk nama seseorang yang kuhajatkan. Yang dalam melakukan kebiasaan itu aku berharap bahwa nama seseorang yang selama ini berhembus lewat panjatan do’aku pada Allah akan menjadi jodoh yang memang ditentukan – Nya padaku. Namun, Allah berkehendak lain yang lewat kenyataan mengatakan bahwa seseorang yang kuhajatkan telah dijodohkan untuk orang lain. Yakni untuk putri Kyai ku sendiri yang memang setiap harinya tulus hati baik terhadap diriku.
Sehingga lewat kebiasaanku itu, Aku belajar bahwa semua yang ada di dunia yang fana’  ini tak pernah lepas dari kehendak Allah. Dan kehendak Allah itu pasti yang terbaik untuk hamba – Nya, pasti ada hikmah di baliknya , walau terkadang memang berat diterima.
Tentang nama yang berhembus lewat do’a, Percayalah Allah pasti membalasnya dengan lipatan ganda pahala, menggantikan seseorang yang kita hajatkan dengan makhluk – Nya yang pasti lebih baik derajatnya di hadapan Allah yang Maha Kuasa.
Inilah kisahku yang bukankah mengandung makna?

Cerpen Santri Keren "Hayya 'alassholah"

Tak heran lagi jika saja adzan mulai berkumandang, santri putri akan berlomba – lomba untuk menjawabnya. Menjawab adzan lalu menyebut nam...