Tak heran lagi jika
saja adzan mulai berkumandang, santri putri akan berlomba – lomba untuk
menjawabnya. Menjawab adzan lalu menyebut nama seseorang yang menjadi hajatan
mereka (sebut saja nama seseorang yang mereka sukai), bertepatan ketika lafadz
adzan hayya ‘alassholah berkumandang.
Memang semenjak saat itu, hal ini menjadi kebiasaan tersendiri yang menjadi trend santri putri di pesantren ini, kebiasaan
ini sering disebut dengan istilah Amalan Hayya
‘alassholah. Ya, Semenjak Ustadzah Aini mengkisahkan bahwa konon katanya,
jika kita menjawab adzan lalu menyebut nama seseorang yang dihajatkan kala
lafadz adzan hayya ‘alassholah berkumandang
, Maka dia yang disebutkan namanya itu akan mampu mendengar panggilan kita atau
bahkan barangkali jodoh. Dengan perincian, menyebut namanya dalam hati sembari
menahan nafas sepanjang masing – masing lafadz hayya ‘alassholah berkumandang.
Percaya
atau tak percaya yang namanya jodoh itu Allah yang menentukan, kita sebagai
manusia tentunya berkewajiban untuk berusaha menjadi yang terbaik untuk
jodohnya nanti. Yah, begitulah. Entah mengapa yang namanya santri itu terkadang
identik dengan kebiasaan pemikirannya yang tentang jodoh-lah ataupun
menikah-lah, yang ini-itu dilamar-lah. Apalagi santri putri yang sukanya baper. Lihat santri putra lewat aja,
udah dag dig dug. Aduh – aduh...! Mungkin apa ini termasuk cobaan dari Allah?
Termasuk untuk menguji lurus atau tidaknya niatan kita sebagai santri yang
sejatinya berniat untuk Tholabul ‘Ilmi. Waollohu a’lam...
Tapi,
hal itu juga tak bisa disalahkan. Karena yang namanya cinta itu anugerah dari
Allah. Wajar saja santri juga punya cinta. Bedanya dalam pesantren diajarkan tentang
cinta yang fitrah yakni, cinta yang suci, cinta yang terhindar dari kemaksiatan,
cinta yang karena Allah yang diluapkan melalui setiap hembusan – hembusan do’a.
Sehingga lahirlah amalan – amalan yang berkaitan dengan yang namanya cinta.
Seperti halnya, kebiasaan santri putri di Pondok Pesantren Toha yang kuabdi
saat ini. Yakni....Amalan Hayya ‘alassholah.
***
Kala
murottal Q.S. Al – Mulk berbunyi, menandakan masuk waktu sholat fardhu maghrib.
Dan pastinya adzan akan segera berkumandang. Seperti biasa, santri putri saat
ini sibuk dengan sendirinya. Berlari kesana – kemari untuk mengantri bersuci.
“ Tasya! Masih lama? ” Terdengar suara Mbak* Ani dari luar
kamar mandi. (*kata “mbak” yakni panggilan kepada orang perempuan yang lebih
tua)
“ Iya mbak. Syuwayya
!(bentar!)” Jawabku.
Tak
lama aku keluar dari kamar mandi. Kupakai mukenaku lalu berangkat ke masjid.
Semua santri mulai beramai – ramai pergi ke masjid. Dan tergelarlah sajadah
mereka membentuk shaf sholat. Lihatlah wajah antusias mereka untuk berlomba
lomba menjawab adzan. Ketika murottal telah berhenti, sekejap setiap lirih
suara langsung teredam. Hening. Ya, mereka akan menjawab adzan, dan yang
ditunggu apalagi kalau bukan Amalan Hayya ‘alassholah mereka. Begitu pun aku, juga bersiap menjawab adzan lalu
menyebut namanya kala nanti lafadz adzan hayya
‘alassholah berkumandang. Adzan mulai terdengar, dan di kala berkumandangnya lafadz adzan hayya ‘alassholah , aku mulai menahan
nafas, memejamkan mata lalu dalam hati kusebut... “Abdullah
Zein... Abdullah Zein...” Tak
lama adzan telah berlalu, kubaca do’a setelah adzan lalu tak lupa 3x Al –
fatihah yang teruntuk pada seseorang yang memang kuhajatkan. Kyai Dani pun
telah bersiap untuk memimpin sholat maghrib sehingga Iqomah pun dilantunkan.
Sholat telah dimulai dan diakhiri dengan salam. Dilanjutkan dengan berdzikir
kepada Allah yang dipimpin pula oleh Kyai Dani.
Alhamdulillah, Allah menganugerahkan cinta –
Nya padaku sehingga hatiku bertaruh pada makhluk Nya yang memiliki sebutan,
Abdullah Zein. Katanya, lebih akrab dipanggil Mas* Azein (*kata “mas” adalah
sebutan kepada orang laki – laki yang lebih tua). Ia adalah muadzin dari santri
putra, terkenal dengan suara emasnya, dan Alfiyah yang diembannya. Aku tak
pernah tampak bagaimana rupanya, hanya mendengar setiap panggilan Allah yang
dikumandangkannya. Disetiap harinya kutangkap melalui gendang telinga, alunan
panggilan Allah untuk beribadah yang dikumandangkannya dengan lantang lewat pengeras
suara masjid. Memanglah kuakui awalnya aku jatuh cinta pada suara emasnya.
Sehingga terciptalah namanya dalam setiap hembusan do’aku pada Allah Subhanahu
Wata’ala. Selama kurang lebih 1 setengah tahun lamanya semenjak maraknya Amalan
Hayya ‘alassholah, nama Abdullah Zein – lah yang selama ini kusebut dikala
lafadz adzan hayya ‘alassholah berkumandang.
Aku, Tasyaa Aluna. Santri
putri Kyai Dani Ma’ruf dan Ibuk Nyai Nurjannah. Menapakkan kaki tuk berhijrah
di pesantren ini. Yang Alhamdulillah melewati tiga tahun mengabdi dan mengaji Kitab
As salafiyah, sejak kelas 1 Madrasah Aliyah hingga meluluskannya. Dan
kuputuskan di tahun keempat ini usai lulus Aliyah, aku mulai mengemban kitab
suci Allah, Al-Qur’an. Ya, Insyaa Allah biasa disebut menghafal.
Menghafal Al – Qur’an itu tak
semudah membalikkan sebuah telapak tangan. Pasti diuji keimanannya oleh Yang
Maha Kuasa. Kata Ibuk Nyai menghafal Al – Qur’an itu cobannya datang dari mana
saja. Mulai cobaan dari diri sendiri, guru, keluarga, teman dan sebagainya. Itu
memang benar. Sebab aku telah mengamati dari banyaknya teman seperjuanganku di
pesantren ini yang memang 80% santrinya
adalah penghafal. Ada kalanya, dicoba dari diri sendiri. Alkisah, seniorku
sebut saja Mbak Naila. Orangnya penyabar, yang sabarnya tak mengenal asa.
Setengah dari perjalanannya dalam menghafal, Sebuah kenyataan mengejutkan
hatinya. Alat indranya yang disebut mata, yang memang sedikit adanya keluhan.
Ternyata memang terjadi suatu kefatalan. Dulu, sewaktu umurnya masih 10 tahun
sempat suatu waktu ia bermain bersama saudara kandung laki – lakinya. Dan
tibalah suatu ketidaksengajaan terjadi. Sebuah peluru ketapel mengenai matanya.
Beruntung dalam keadaan mata tertutup, hingga awalnya memang tak apa. Namun
efeknya terjadi ketika 7 tahun usai dilewatinya, yang tanpa ia sadari tepat kala
pertengahan proses menghafal. Ia divonis katarak. Sehinnga pada akhirnya,
dengan keterpaksaan ia harus menunda hafalannya selama kurang lebih 3 bulan
untuk menjalani operasi mata sekaligus pemulihannya. Dengan sisa iman yang
masih kokoh dan istiqomah, setelah 3 bulan lamanya menunda hafalan, Mbak Naila
kembali berjihad di jalan – Nya untuk mengemban Al – Qur’an.
Ada kalanya juga, Allah
menguji keimanan lewat cobaan dari keluarga. Alkisah masih orang yang sama,
Mbak Naila. Tak ada angin tak ada hujan, suasana yang awalnya menyejukkan
berubah menjadi menghitam. Ia mendapat kabar bahwa saudara kandung laki –
lakinya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga patah tulang kakinya. Hal itu
termsuk penghambat bagi Mbak Naila. Pikirannya kalut dalam gelapnya kabut.
Akibatnya konsentrasi dalam menghafal berkurang. Tak lepas dari fikiran tentang
keluarga.
Pada intinya Allah menguji
seberapa kokohnya keimanan kita, sejauh mana keistiqomahan kita dalam
menghafal, luruskah niat kita dalam menghafal Al – Qur’an yang sejatinya hanya
mengharap Ridho Allah Subhanahu Wata’ala.
Selebihnya, Ustadzah Aini yang
memang seorang hafidzhoh pun berkata, “Orang Hamilil Qur’an itu punya janji
kepada Allah dicoba terus keimanannya, yang cobaannya itu sampai mati.”
Cobaannya bisa di tahap awal dalam menghawal, pertengahan dalam menghafal, atau
ketika setelah khotam. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Waullohu A’lam.... Allah-lah yang
berkehendak atas segala sesuatu.
Di ba’da maghrib (setelah
maghrib) ini, adalah jadwal setoran hafalan yang akan disimak oleh Ibuk Nyai. Alhamdulillah,
saat ini adalah perjalananku dalam pertengahan hafalan. Disinilah konon katanya
para penghafal Al – Qur’an dicoba keimanannya lewat perasaan hatinya. Ya, bisa
dibilang perasaan suka terhadap lawan jenis. Lihat saja, sebagian besar teman
seperjuanganku. Mereka sedang melewati masa – masa kebaperan. Entah yang ini
usai dilamarlah, diberi kode tanpa kepastian oleh orang tuanya tentang laki –
laki lah, dan atau apalah itu.
Tepat kumenghafal di juz 16
Q.S. Toha. Kala hendak setoran pada Ibuk Nyai, dengan baik hati, Ustadzah Aini
menyimakku.
“Sini, Aku simak, Sya.”
Ujarnya.
“Injih.....(Ya....)”
Kubaca ayat per ayat dengan bil
– ghoib (menghafal) dan tibalah pada ayat terakhir. Usailah 2
halaman disimak oleh beliau.
“Alhamdulillah, dapat
setengah. Yang bener jaganya!” Tuturnya.
Aku hanya mengulas senyum.
“Baper ndak (tidak)
sama ayatnya?”
“Emm.... begitulah..”
Mungkin heran ustadzah tanya
seperti itu? Ya, memang ayat surah Toha ini memang membuat para santri
merasakan hebatnya baper. Karena memang mereka tau arti dari ayat
tersebut. Mari simak artinya..mulai dari Q.S. Toha ayat 31.. ”Teguhkanlah
kekuatanku dengan adanya dia.” lalu ayat 32.....”Dan jadikanlah dia
teman dalam urusanku.” Dan penggalan ayat 39...”....Aku telah
melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari – Ku...” lalu
ayat 41....”Dan Aku telah memilihmu(menjadi rosul) untuk diri – Ku.”
Masyaa Allah! Pada ayat itulah
ditunjukkan bahwa betapa besarnya Cinta Allah, betapa manis Cinta – Nya yang
perlu kita balas dengan berupa rasa syukur atas segala nikmat yang
dikaruniakan- Nya dan selalu mengingat – Nya. Namun, seperti itulah manusia
kerap lupa terhadap Sang Penciptanya.
Ayat tersebut memang terkadang
menjadi caption – caption para santri yang memang lagi melewati
tantangan perasaan. Ya, sebut saja cinta. Memang seperti itulah para santri,
gemar mengambil caption dari ayat Al – Qur’an yang artinya mengandung
unsur cinta.
“Memang disinilah Allah
meningkatkan cobaan-Nya kepada para penjaga Al-Qur’an. Apalagi masalah suka
pada lawan jenis.Sebagai contoh dapat dilihat yang terlebih pada ayat surat
Toha antara ayat 25 – 41 ,yang pada ayat itu banyak yang menjadi baper
karena telah mengetahui artinya. Dan kebetulan saat itulah aku di
bingungkan.....”
Aku mengerutkan kening, karena
terputusnya ucapan ustadzah Aini. Kala ku pandang,beliau tersenyum. Aku
menggeleng tak mengerti.
“Ya,tiba aku menghafal
ayat-ayat itu,kurang lebih lima santri putra pesantren Jombang datang pada
ibuku menanyakan tentangku. Belakangan itu,aku digembleng untuk sholat istikhoroh pada malam hari. Agar tau
petunjuk dari Allah sipakah yang terbaik untukku. Mereka semua sama. Udah bagus,hafal
Alfiyah pula.” Sambung beliau.
Ya Allah sampai seperti itu
cobaannya? Masyaa Allah aku tak bisa bayangkan bagaimana bimbangnya hati
ustadzah Aini saat itu yang ditanyakan kabarnya oleh lima santri pesantren
Jombang yang terkenal dengan santrinya yang mengesankan. Belum lagi tanggungan
hafalannya yang memang belum tuntas.
“Ya sudah setoran dulu sana!”
Utusnya.
Memang kurang lebih lima menit
yang lalu pintu ndalem (Rumah Ibuk Nyai) sudah terbuka, pertanda
Ibuk Nyai telah bersiap untuk menyimak setoran para santri. Aku pun berjalan
bersama santri lainnya menuju ndalem.
Tampak dari luar, mimbar kayu
itu terlihat sedikit berdebu. Aku dan teman – temanku saling berpandangan dan
mematung sekejap. Dengan sigap ku berlari menuju ruang depan ndalem
tepat terletaknya mimbar kayu itu. Mereka pun juga berlari mengekoriku. Ya,
kami saling berebut untuk membersihkan mimbar kayu Ibuk Nyai dengan
berharap mendapat barokah dan ridho beliau. Hal tersebut memang telah menjadi
kebiasaan para santri di pesantren ini. Saling berebut berkah dan ridho Bu Nyai
lewat hal sekecil apapun. Dengan sajadah alas ngaji seadanya, kami berebut
untuk membersihkan mimbar.
“ Hey! Aku duluan!” Katanya
yang menepuk pundakku yang masih asyik membersihkan mimbar. Aku hanya
membalasnya dengan senyuman ringan.
“Dasar Tasya....” Sambungnya
kesal dengan mengandung candaan.
Usai bersih, Kami duduk
berderet rapi lalu menunggu Ibuk Nyai rawuh (datang).
Gorden ungu itu tersibak dari
belakang mimbar. Tibalah Ibuk Nyai keluar dari baliknya sembari membawa
secangkir wedang jahe di tangan kanan beliau. Ya, itulah rahasia dibalik
emasnya suara beliau, wedang jahe hangat yang diberi sedikit taburan gula.
Tanpa basa – basi, dengan bahasa isyarat ketukan rotan pada mimbar. Dari
barisan Lia, para santri mulai maju satu per satu menyetorkan hafalan mereka
kepada Ibuk Nyai. Mereka akan membaca secara
bil – ghoib didepan Ibuk Nyai dan disimak oleh beliau.
Setiap santri wajib
menyetorkan 2 halaman Al – Qur’an per harinya. Sehingga diperoleh target 10
hari 1 juz dilanjutkan dihari kesepuluhnya muroja’ah juz yang baru dihafalkan
tersebut. Muroja’ah dengan dibentuk majelis sema’an
biasa disebutnya. Yakni membaca bil - ghoib yang akan disimak oleh
santri lain secara bergantian.
Untuk menguatkan kualitas
hafalan. Dilaksanakan kegiatan rutinan di akhir bulan. Yakni sema’an
seluruh juz yang memang telah lampau dihafalkan. Andaikata seperti kami yang
Insyaa Allah telah menghafal 15 juz, artinya diakhir bulan nanti
kami akan membaca 15 juz tersebut secara bil – ghoib selama 2 hari penuh
yang dilakukan secara berkala. Seperti itu.
Haruskah kita menguatkan
hafalan? Ya, karena menghafal Al – Qur’an itu akan dipertanggung jawabkan oleh
Allah di akhirat nanti. Karena memang menghafal itu dari kata bahasa Arab yakni
Khafadzo yang artinya menjaga. Jadi dapat disimpulkan bahwa menghafal Al
– Qur’an itu tak semata setoran saja. Tapi juga berkewajiban menjaga setiap
ayatnya dalam diri. Maka dari itu terciptalah usaha untuk menjaga Al – Qur’an
seperti sema’an yang dilakukan seperti di pesantren ini. Adapun pepatah
mengatakan bahwa, “Menghafal Al – Qur’an
itu bukan untuk Khotam, Tetapi untuk setia.” Maksudnya adalah setia untuk menjaganya.
Tepat murottal Q.S. Al - Insan
berbunyi. Menandakan masuk waktu sholat Isya’. Sesi setoran pun telah usai.
Nyai pun berdiri dan kembali menyibak gorden dan hilang dibaliknya.
Kebetulan, wedang jahe Nyai
masih tersisa seperempat gelas. Tanpa basa – basi kami pun segera berebut.
“Thobur!!...(Antri)” Kataku
sembari menepuk punggung Nisa yang memang mendapat tegukan pertama. Ia
mengacungkan jempol tangan kirinya pertanda,”Ya”
Hal tersebut juga salah satu
mengharap barokah Ibuk Nyai,yang memang menjadi hal yang direbutkan oleh para
santri. Adat tersebut menjadi kebiasaan yang memang identik daripada para
santri.
“Jangan lupa gelasnya dicuci
lalu ditaruh ke dapur ndalem!”Kataku padanya yang mendapat tegukan
terakhir.
“ ‘Alamtu (saya tahu)”
Jawabnya yang mendapat tegukan terakhir.
Ku berjalan menuju asrama dan
langsung antri ke kamar mandi untuk segera bersuci. Usainya,aku menyambar
mukena yang kuletakkan di dalam almari. Murottal telah berhenti. Ya
Allah..keburu adzan!!..ku berlari menuju masjid. Ya..biasalah biar tak
ketinggalan menjawab adzan. Selain itu,pasti taulah..lakoni Amalan Hayya
‘alassholah.
Sampai di masjid,ku gelar
sajadah biruku. Di masjid, santri lain telah duduk rapi di masing-masing shaf sholat
mereka.Tampak di barisan kedua terdapat shaf sholat yang masih kosong.Segera
aku duduk disana. Adzan pun mulai berkumandang, akupun menjawabnya dengan
khusyuk,dan tibalah lafadz Hayya ‘alassholah berkumandang. Kupejamkan
mata, menahan nafas dalam hati kusebut...”Abdullah Zein... Abdullah Zein..”
***
Mentari mulai ter gelincir
diantara luasnya hamparan langit biru. Terdengar kicauan merpati keluar dari
sangkarnya. Angin berhembus pelan sehingga menciptakan nuansa kesejukan.
Pagi ini Ning Afika
akan datang dengan membawa sebuah kebanggaan. Afika Nida’unnisa, Putri bungsu
Kyai Dani setelah kedua kakaknya yakni Ning Asma dan Ning Assyifa,
yang saat ini beliau – beliau bersama suami berturut – turut membina Pondok
Pesantren di Malang dan Kediri. Ya, Ning Afika, seperti itulah para
santri menyebutnya. Kata “Ning” adalah sebutan bagi anak perempuan seorang
Kyai. Sedangkan biasanya anak laki – laki seorang Kyai disebut dengan
kata “gus” . Kebanyakan pesantren memang seperti itu. Menyebut putra
atau putri Kyai nya dengan sebutan gus atau ning.
Ning Afika datang dari Jihad
Fiisabilillah nya di Turki. Setelah meluluskan akselerasi 2 tahun Aliyahnya,
beliau melanjutkan jenjang perguruan tinggi jalur beasiswa di Turki. Masyaa
Allah sungguh mengesankan.
Ba’da subuh tadi keluarga Kyai
Dani berangkat dengan mobil putih menuju bandara Juanda untuk menjemput Ning
Afika. Sebelum akhirnya, tepat pukul 10.00 WIB ini tampak mobil putih Kyai Dani
memasuki gerbang hitam pesantren dan tepat parkir di garasi ndalem.
Ning Afika, beliau memiliki paras
yang cantik dan manis, pun beliau masih seumuranku. Beliau tak gila akan
kehormatan sehingga biasa membaur dengan para santri.
***
Suatu waktu kala murottal Q.S.
Al – Mulk telah terdengar melalui pengeras suara masjid. Menandakan masuk waktu
sholat maghrib. Seperti biasa para santri bergegas bersuci lalu berangkat menuju
masjid. Tampaklah masjid telah dipenuhi para santri yang duduk rapi diatas
sajadah mereka yang tergelar dan membentuk shaf sholat. Mereka bersiap
menyambut adzan dan menjawabnya. Yah, tak lupalah dengan Amalan Hayya
‘alassholah mereka.
Tibalah sebuah sajadah
tergelar tepat disamping shaf sholatku. Memang sedari tadi aku telah sampai di
masjid dan mengambil shaf sholat di barisan kedua. Kutunggu adzan berkumandang
dengan muroja’ah hafalan yang ba’da maghrib nanti kusetorkan.
Pemilik sajadah yang tergelar
disampingku pun duduk. Sebelum akhirnya beliau mulai membuka pembicaraan. Ya,
beliau...Ning Afika.
“Sejak kapan temen – temen
jadi rajin berangkat jama’ah seperti ini? Padahal masih murottal lho, shaf
sholatnya sudah hampir penuh. Bukankah dulu biasanya adzan sudah berhenti masih
2 baris yang datang?” Tanya beliau dengan sedikit adanya unsur candaan.
Aku yang tadinya menghadap
pada lembaran Al – Qur’an kini menoleh pada beliau. Sedikit aku terlonjak,
karena memang sudah lama aku tak mndengar suara lantang beliau. Mungkin asing
di telinga. Aku menjabat tangan beliau dengan ta’dzim dan tak lupa mengulas
sebuah senyuman. Meski sudah biasa membaur dengan para santri tapi seyogyanya kita, sebagai santri harus memiliki rasa ta’dzim kepada yang termasuk Dzurriyah nya Kyai
(keturunannya Kyai), apalagi pada putra atau putri Kyai, seperti Ning Afika
ini. Dan sebelum akhirnya, aku menjawab pertanyaan beliau.
“Emm... Semenjak maraknya
Amalan Hayya ‘alassholah di
pondok.”
Aku tersenyum melihat lucunya
gurat wajah heran Ning Afika. Pasti beliau bertanya – tanya apa itu
Amalan Hayya ‘alassholah. Tanpa ocehan panjang kujelaskan pada beliau
tentang trend kebiasaan santri putri di pondok yang tak diketahui oleh
beliau. Karena memang maraknya kebiasaan tersebut ketika Ning Afika masih
di Turki.
“Awalnya , waktu itu Ustadzah
Aini cerita tentang adzan hayya ‘alassholah itu ke aku dan santri
lainnya. Sejatinya, itu masih konon katanya, tapi temen – temen aja ambil
percaya gitu aja!” Tambahku.
“Ya Allah... Unik – Unik!
Wajarlah santri remaja kalau punya rasa suka hingga dibawa lewat do’a” Puji
beliau dengan senyum lepas.
“Hingga hal itu merembet
menjadi sebuah trend kebiasaan di asrama santri putri sejak 2 tahun yang
lalu dan disebut dengan istilah Amalan Hayya ‘alassholah. Setelah Ning
Afika berangkat ke Turki.” Jelasku lebih detail.
“Kamu juga lakoni Amalan itu?”
Aku hanya tersenyum simpul.
“Terus yang kamu sebutin
namanya siapa?”
“Silakan tanya ke Allah Ning...”
Candaku karena sedikit malu.
Hening sebentar dan tak lama
Adzan dikumandangkan oleh suara emas Mas Azein. Ning Afika pun menoleh
kearahku. Aku pun mengangguk dan tersenyum. Kami bersama – sama menjawab Adzan
dan menyebut nama seseorang yang kami hajatkan dikala sepanjang lafadz hayya
‘alassholah berkumandang.
Alhamdulillah, semenjak saling berbincang
saat itu, kami menjadi kenal akrab. Hingga akhirnya entah yang Ning Afika
setiap hari menyimak hafalanku yang akan disetorkan, setiap kali ba’da maghrib
kami akan duduk di kursi bawah pohon di halaman untuk menyimakku dan sesekali
sedikit berbincang. Ataupun terkadang, kala aku melaksanakan sema’an satu
juz ataupun lima juz juga Ning Afika yang menyimak , aku juga sering kali
diajak keluar masuk ndalem seperti rumah sendiri untuk membantu beliau
bersih – bersih atau membuat sebuah hiasan rumah. Berkaitan dengan hal itu
entah mengapa muncul sebersit rasa tak enak kepada beliau. Dan sebelum
akhirnya, aku berniat membalas kebaikan beliau, setidaknya seringkali membantu
beliau ketika kesulitan, pun kita sering bersama saling bertukar cerita.
Mungkin menjadi sebuah kehormatan tersendiri bagiku kala dapat kenal akrab
bersama beliau.
Pernah sesekali kujelaskan
pada beliau bahwa aku sering merasa tak enak kepada beliau karena seringkali
beliau menyimakku. Tapi beliau mungkin akan hanya tersenyum ringan dan berkata
bahwa semuanya tak apa karena beliau sudah senang memiliki teman sepertiku,
maklum saja karena memang di ndalem pasti sepi tak ada teman.
Dan semenjak kenal akrab
dengan Ning Afika lah yang awalnya aku tak tau apa yang akan terjadi di
kedepannya. Maka, kunyatakan disinalah mulainya sebuah tantangan yang akan
bermain dengan kesabaran dan keikhlasan hati.
***
Suatu waktu, ketika beliau
menyimak hafalanku yang akan disetorkan. Kejadian kecil terjadi hingga aku
tertangkap basah oleh Ning Afika bahwa aku menyukai santri putra Kyai
Dani. Kala Al – Qur’an ku telah dalam genggaman beliau, tibalah secarik kertas
jatuh dari antara lembaran Al – Qur’an.
“Apa ini?” Tanya beliau
sembari mengambil kertas itu yang jatuh tepat ditangan kirinya. Aku pun sedikit
tak acuh awalnya, karena kupikir hanya kertas kecil yang kosong tak berarti.
Namun ternyata?
“Abdullah Zein?” Langsung aku
membulatkan mata berharap salah mendengar.
Baru kuingat bahwa aku pernah
menuliskan nama Mas Azein di secarik keratas dan kusematkan diantara lembaran
Al – Qur’an tepat di Q.S. Ar – Rahman. Hemm... biasalah! Aku hanya bermimpi untuk dipinang Mas Azein dengan mahar
halalnya Q.S. Ar – Rahman. Seperti Ustadzah Aini yang memang dulu dipinang oleh
suaminya dengan lantunan Q.S. Ar – Rahman dengan bil – ghoib.
“Apa Ning?” Tanyaku sekali lagi.
“Abdullah Zein. Wah.... ini
rupanya yang kau hajatkan? Dan jangan bilang nama ini yang kau sebut dalam
kebiasaan Amalan Hayya ‘alassholah mu!” Bidiknya.
Ya Allah aku malu... Bagaimana
ini? Jantungku berdegup.
“Bukankah ini santri putra abah
(panggilan ayah)? Yang biasanya adzan di masjid kan? Suaranya bagus kan? Kalau ndak
salah biasa dipanggil Mas Azein! Wah... ketahuan kamu! Dia lho biasa diutus
abah bantu ini itu di rumah.”
Ya Allah Ning Afika tau
lagi orang nya yang mana. Mau gimana lagi, bisanya hanya pasrah.
“Udah lah, Tasya! Tak apa...
Cinta itu fitrah, sehingga setiap manusia berhak memilikinya.
Sehingga akhirnya semenjak
saat itu Ning Afika seringkali menjailiku dengan berkata yang entah itu aku
dicari Mas Azein lah atau dapat salam dari Mas Azein lah dan segala kejailan
beliau. Memang beliau itu terkadang suka bercanda.
***
Dan di sore itu Ning
Afika mengajakku untuk membantunya memasak untuk berbuka puasa sunnah.
Kebetulan keluarga ndalem hari ini berpuasa Senin Kamis.
Memotong dadu
kecil semua wortel segar itu lalu kurebus bersama sawi putih dalam panci berisi
air yang telah mendidih. Setelahnya kumasukkan bumbu sop kaldu ayam instan
kedalam rebusan wortel dan sawi putih. Sembari menunggu matang sop yang
kurebus, aku membuat seduhan teh hangat untuk Kyai dan Ibuk Nyai. Untuk Ning
Afika beliau beliau ingin membuat seduhan buka puasa sendiri. Dua gelas teh
ku siapkan diatas meja makan. Sedangkan sop kaldu ayam yang memang sudah matang
kutuangkan dalam baskom kaca lalu menyusul kuletakkan diatas meja disamping
lauk tempe goreng yang sedari tadi telah disiapkan Ning Afika.
Kebetulan hari ini
aku udzur (haidl) sehingga tak bisa menemani Ning Afika sholat berjama’ah
di masjid. Namun, mustahil bila hal itu menjadi perusak keistiqomahanku dalam
menjawab adzan yang dikumandangkan oleh Mas Azein dan sangat mustahil lagi
apabila hal itu menjadi penghalang
hatiku untuk menyebut nama Mas Azein ketika lafad adzan hayya ‘alassholah berkumandang
nanti.
Ketika aku akan
kembali ke asrama, langkahku terhenti karena panggilan Ning Afika yang
telah siap dengan mukena putihnya.
“Tasya! Jangan
kembali ke asrama dulu nanti ba’da maghrib kita makan bersama, kan kamu
sudah membantuku. Toh kamu haidl kan, pergi masuk ke kamarku dulu sana!”
Utusnya.
“Emm..” Aku
menggaruk tengkukku bingung harus apa. Mana mungkin aku langsung masuk ke kamar
beliau begitu saja?
“Sini – sini aku
antar!” Ning Afika pun menggiringku ke kamar beliau.
Tampak sebuah
karpet merah sedang telah tergelar disana, dengan meja lipat yang diatasnya
telah tertera rapi masakan yang kami masak tadi, masing – masing dalam wadah
kecil yang memang sisa dari masakan utama di meja makan. Ya Allah, Ning Afika
tadi rupanya menyiapkan ini semua.
“Udah duduk sini
dulu! Ini ada Al – Qur’an, siapkan
tambahan hafalan barumu yang akan disetorkan. Seperti biasa nanti setelah sholat
aku simak baru usainya kita makan bersama sejenak.” Utusnya dengan singkat
sembari mengambilkan Al – Qur’an Tafsir diatas almari dan diberikan padaku.
Aku pun duduk
diatas karpet. Ning Afika pun berlalu menuju masjid.
***
Benar kata Ning Afika,
sehabis sholat beliau menyimakku lalu mengajakku makan bersama beliau. Ditengah
makan sesekali beliau mengatakan sesuatu.
“Ini nanti Ibuk ndak bisa
menyimak setoran kamu dan teman lainnya.” Ucapnya membuka percakapan.
“Kenapa?” Tanyaku penasaran.
“Setelah ini abah akan
membicarakan sesuatu bersamaku dan juga ibuk. Jadi, setoranmu akan dijamak
dengan tambahan hafalan besok sehingga besok disimak ibuk empat halaman
sekaligus. Disiapkan ya!” Sambung beliau.
Aku pun mengangguk. Tibalah
suara Kyai Dani terdengar memanggil Ning Afika dari ruang tamu.
“Afika!” Suara berat beliau
terdengar jelas.
Dengan sigap Ning Afika
beranjak dari makannya dan mengenakan jilbab seadanya menuju ruang tamu dan
meninggalkan sedikit pesan kepadaku.
“Habisin ya makannya sepertinya
abah membicarakan ‘sesuatu’ itu
sekarang! Tapi aku tak tau apa yang akan disampaikan beliau nanti. Ah entahlah!
Bismillah!” Tinggalnya beliau dengan memberiku pesan. Beliau pun berlalu.
‘Ya
Allah Ning...Ning!’ batinku sembari menggeleng.
Aku
pun menghabiskan sisa makanan yang masih ada. Alhamdulillah,sisanya ndak
banyak, jadi ndak kekenyangan. Semoga dapat barokahnya, bayangkan ini sisa
makanan Dzurriyyah nya Kyai (keturunannya Kyai), seperti apa barokahnya?
Usai habis makanannya, aku
beranjak menuju washtafel untuk mencuci alat makan yang kugunakan. Aku mulai berjalan
melewati ruang keluarga namun langkahku terhenti ketika tampak dimataku,
terdapat sekelebat wajah seorang santri putra. Memang dari ruang keluarga
sedikit tampak suasana di ruang tamu. Benar, aku tak salah melihat! Itu santri
putra dan ia duduk terlibat dalam pembicaraan keluarga ndalem tentang ‘sesuatu’
yang dikatakan Ning Afika tadi.
Langkahku terbawa mendekati
tembok pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Entah apa yang telah
menghipnotisku hingga tanpa rasa dosa aku penasaran apa yang dimaksud ‘sesuatu’
oleh Ning Afika. Aku mulai mendengar dengan baik.
“Disini abah akan menyampaikan
bahwa kamu Afika, dan kamu Azein sepakat akan abah dan ibuk jodohkan.” Kata
beliau yang sedikit aku tak percaya. Jantungku berdegup. Benarkah ini yang aku
dengar?
“Afika, maaf sebelumnya abah
dan ibuk tak memberitahumu dahulu, karena abah dan ibuk ingin kamu
menyetujuinya bukan untuk menolaknya.” Kata abah berharap peretujuan Ning Afika.
“Afika, Perkenalkan ini
Abdullah Zein yang biasanya mengumandangkan adzan di masjid. Abah dan ibuk
telah menaruh kepercayaan padanya sehingga, percayalah dia adalah yang terbaik.”
Tambah Ibuk Nyai.
Tibalah titik demi titik air
mata yang tak terasa jatuh dari kelopak mataku. Tenggorokanku tercekat.
Jantungku berdegup kencang. Inilah yang kusebut tantangan dari awal, bahwa
semenjak aku kenal akrab dengan Ning Afika lahirlah tantangan yang
bermain bersama keikhlasan dan kesabaran hati. Selamat datang tantangan
kenyataan tentang Kyai Dani dan Ibuk Nyai yang memang telah menjodohkan Ning
Afika dengan Mas Azein.
Segera kulanjutkan langkahku
menuju wastafel dan mulai mencuci alat makan yang digunakan keluarga ndalem dan
yang baru kugunakan bersama Ning Afika. Tepat di terakhir ku mencuci
alat makan, tibalah Ning Afika disampingku. Tampak gurat takut di wajahnya
dan beliau mematung tepat didepanku.
“Ning? Maafkan aku, aku
tadi tanpa sengaja mendengar perbincangan di ruang tamu. Maafkan aku Ning...
Jika memang kau berkehendak untuk memarahiku, aku siap menerimanya.” Dengan
pelan dan gugup luar biasa aku mengatakan itu pada beliau. Aku menunduk, air
mataku telah membendung dalam kelopak mata bersiap untuk menetes kesekian
kalinya.
Hening lama. Hingga akhirnya
aku mendongak menatap wajah beliau yang saat ini memasang gurat tak biasanya
dan membulatkan mata.
Tanpa sepatah kata tak
bermakna, Ning Afika tiba – tiba menarik
lenganku untuk keluar dari ndalem dan duduk di kursi bawah pohon yang
biasanya kami berbincang singkat disana. Ya Allah, aku siap dibenci dan
dimarahi oleh Ning Afika.
“Ha-harusnya aku yang meminta
maaf padamu. Karena memang kau telah mengetahui perbincangan kami....” Sesalnya
yang terdengar gugup. Kupandang wajah beliau. Beliau meneteskan air mata.
“Ning tidak salah atas
apapun. Mengapa harus meminta maaf?”
“Maafkan aku karena tak bisa
menolak keputusan abah untuk menjodohkan aku dengan Mas Azein yang sejatinya ia
disukai olehmu, temanku yang selama ini padaku tak pernah berburuk hati.
Seberapa besar dosa yang kuperbuat padamu yang tak seharusnya menerima rapuhnya
hati...”
“Ning, ketahuilah! Justru jika
kau menolak keputusan Kyai Dani maka akan menimbulkan dosa yang lebih! Ning...
jangan menghukum diri seperti itu!”
“Tasya?....” Akhirnya beliau
mendongak. Tampak air mata tak henti – hentinya berhenti dari mata beliau.
Dengan sisa tenaga yang masih ada walau banyak yang terkuras karena tangisan,
beliau memelukku dengan erat.
Kubalas pelukannya dengan
lemah. Kami tenggelam dalam tangisan haru.
Bismillahiqolby....
Izinkan aku mengatakan
Kebiasaanku yakni Amalan Hayya
‘alassholah, yang memang adalah menyebut nama seseorang yang kuhajatkan kala
lafadz hayya ‘alassholah berkumandang dan tak lupa mengkhususkan 3 x Al –
Fatihah untuk nama seseorang yang kuhajatkan. Yang dalam melakukan kebiasaan
itu aku berharap bahwa nama seseorang yang selama ini berhembus lewat panjatan
do’aku pada Allah akan menjadi jodoh yang memang ditentukan – Nya padaku.
Namun, Allah berkehendak lain yang lewat kenyataan mengatakan bahwa seseorang
yang kuhajatkan telah dijodohkan untuk orang lain. Yakni untuk putri Kyai ku
sendiri yang memang setiap harinya tulus hati baik terhadap diriku.
Sehingga lewat kebiasaanku
itu, Aku belajar bahwa semua yang ada di dunia yang fana’ ini tak pernah lepas dari kehendak Allah. Dan
kehendak Allah itu pasti yang terbaik untuk hamba – Nya, pasti ada hikmah di
baliknya , walau terkadang memang berat diterima.
Tentang nama yang berhembus
lewat do’a, Percayalah Allah pasti membalasnya dengan lipatan ganda pahala,
menggantikan seseorang yang kita hajatkan dengan makhluk – Nya yang pasti lebih
baik derajatnya di hadapan Allah yang Maha Kuasa.
Inilah kisahku yang bukankah
mengandung makna?
